Terbongkar! Fakta Scalping yang WAJIB Diketahui

Terbongkar! Fakta Scalping yang WAJIB Diketahui

Banyak orang suka banget sama scalping.

Alasannya simpel: kelihatan cepat, kelihatan gampang, dan rasanya duit bisa datang tiap menit.

Cuma ambil 10 poin, bisa dapat sekian dolar.

Sehari kalau konsisten, hitung-hitungan kasarnya lumayan.

Saya dulu juga melihatnya seperti itu.

Rasanya nagih.

Klik sedikit, close.

Klik lagi, close lagi.

Seolah-olah trading itu cuma soal cepat-cepatan ambil recehan.

Tapi kenyataannya nggak sesederhana itu.

Saya sering lihat orang yang mengaku scalper, tapi sebenarnya cuma takut.

Profit sedikit langsung ambil. Floating minus sedikit langsung panik.

Kalau posisi salah, malah didiemin sampai merahnya dalam.

Itu bukan scalping, itu gambling pakai alasan “trading cepat”.

Scalper yang benar itu bukan soal ambil profit kecil, tapi soal disiplin main di area yang sudah ditentukan.

Cara Saya Menjalankan Scalping

Sebelum entry, saya selalu tentukan dulu area support dan resistance yang kuat.

Biasanya saya ambil patokan dari timeframe H4 atau H1.

Kenapa?

Karena semakin besar timeframe, biasanya area support-resistance makin kuat dan lebih susah ditembus.

Setelah area ketemu, saya baru turun ke M15 untuk lihat pergerakan detailnya.

Saya hanya entry kalau harga masuk ke area yang sudah saya tandai. Kalau belum sampai sana? Saya tunggu. Nggak ada alasan untuk maksa entry.

Misalnya harga turun ke area support kuat, saya buy.

Naik sedikit, saya close.

Turun lagi ke area yang sama, saya buy lagi.

Tapi kalau harga tembus dan keluar dari area itu? Saya cut. Tanpa debat. Karena itu sudah bukan wilayah saya.

Itu prinsip dasarnya: saya hanya scalping di area kuat. Di luar itu, saya nggak peduli.

Bedanya Scalper Asli dan Scalper Newbie

Dari pengalaman saya mengamati banyak trader, ada beberapa perbedaan mencolok:

1. Fokus pada pergerakan harga, bukan angka profit.

Scalper yang benar hanya ikut movement market. Kalau nggak sesuai skenario, cut. Mayoritas orang malah fokus ke pojok kanan bawah layar: profit-loss. Begitu minus, panik. Begitu plus, buru-buru ambil.

2. Trading pendek bukan berarti asal cepat.

Scalping itu trading pendek karena memang areanya pendek, bukan karena takut. Kalau mindset-nya “yang penting cepat close”, itu bukan sistem. Itu refleks emosional.

3. Tidak trading saat market liar.

Saya pribadi menghindari market saat news besar, market open, atau kondisi terlalu volatile. Kenapa? Karena lonjakan harga bikin kita kaget dan keputusan jadi emosional. Banyak yang sudah profit berkali-kali, tapi hilang semua cuma dalam satu kali loss besar saat news.

News trading itu metode lain. Beda total. Jangan dicampur.

Kenapa Scalping Itu Sebenarnya Berat

Banyak orang nggak sadar, untuk jadi scalper yang konsisten, kita harus seperti robot. Nggak peduli harga naik atau turun. Nggak peduli tadi profit berapa. Semua harus sesuai sistem.

Masalahnya, karena frekuensi trading tinggi, kita jadi terlalu sering lihat chart. Terlalu sering klik. Lama-lama jadi kecanduan.

Saya pernah di fase trading dari pagi sampai malam. Hang Seng, lanjut ke sesi Eropa, lanjut lagi ke Nasdaq. Profit mungkin ada, tapi hidup rasanya cuma saya dan laptop. Nggak sehat.

Scalping bisa bikin kita “nolife” kalau nggak dikontrol.

Faktor Pendukung yang Wajib Ada

Kalau mau serius scalping, ada beberapa syarat teknis yang nggak bisa ditawar:

  • Eksekusi harus cepat.
  • Spread harus kecil.
  • Komisi harus rendah, kalau bisa tanpa komisi.

Karena target poin kita pendek. Kalau spread besar, setengah profit sudah habis duluan. Kalau eksekusi lambat, harga keburu lari.

Dan di sinilah banyak orang gagal.

Mereka pakai broker dengan spread besar, koneksi lambat, tapi tetap maksa scalping. Ujung-ujungnya bukan sistemnya yang salah, tapi infrastrukturnya yang nggak mendukung.

Intinya begini. Scalping itu bukan soal cepat-cepat ambil untung. Bukan soal klik sebanyak mungkin. Tapi soal disiplin main di area yang jelas, cut saat salah, dan berhenti saat kondisi market tidak ideal.

Kalau kamu mau jadi scalper, pastikan kamu siap secara mental, teknis, dan gaya hidup. Kalau tidak, scalping bukan jadi sumber profit tapi jadi sumber stres.

Dan percayalah, market selalu ada besok. Nggak perlu semua pergerakan kamu ambil hari ini.

Posting Komentar