Di episode ini, saya benar-benar membuka sisi dalam dunia broker forex.
Bukan dari sudut pandang luar, tapi dari pengalaman saya sendiri yang pernah ada di dalam sistemnya.
Banyak trader sering bertanya, kenapa sih rasanya selalu dipersulit untuk profit?
Kenapa yang cuan itu-itu saja?
Setelah saya lihat dari dalam, jawabannya ternyata cukup jelas.
Hal pertama yang selalu saya tekankan adalah soal trading rules.
Kalau sebuah broker punya aturan yang aneh-aneh dan terasa membatasi misalnya tidak boleh scalping, tidak boleh pending order dekat harga, tidak boleh trading saat news, tidak boleh pakai robot, bahkan stop loss dibatasi itu sudah jadi tanda tanya besar.
Biasanya model seperti ini mengarah ke broker yang full market maker.
Aturan dibuat bukan untuk melindungi trader, tapi justru membatasi peluang profit.
Selain itu, saya juga melihat dari sisi spread.
Kalau spread selalu fixed dan tidak bergerak sama sekali, itu juga patut dicurigai.
Lalu cek kecepatan eksekusi.
Ini penting.
Kalau server broker ada di Jakarta, transaksi normalnya selesai dalam 100–300 milidetik.
Kalau di Singapura mungkin 200–400 milidetik.
Kalau sudah 500–800 milidetik dalam kondisi koneksi stabil, itu patut dipertanyakan.
Artinya order kita bisa saja diproses dulu sebelum benar-benar dilempar ke market.
Tapi di sisi lain, saya juga belajar satu hal penting.
Sebagai trader, kita sebenarnya tidak perlu terlalu pusing memikirkan broker itu STP, ECN, atau hybrid.
Kita tidak pernah benar-benar tahu order kita dilawan atau diteruskan.
Yang paling penting itu simpel: kita tidak diganggu saat trading dan profit kita dibayar. Itu saja.
Kalau terlalu banyak mikir hal teknis yang tidak bisa kita kontrol, ujung-ujungnya malah bikin overthinking dan performa trading jadi berantakan.
Saya sendiri akhirnya memutuskan jadi trader setelah satu setengah tahun bekerja sebagai dealer.
Setiap hari saya memantau akun-akun yang profit.
Dari situ saya melihat pola yang sangat jelas.
Mereka yang konsisten profit cuma punya dua kesamaan: selalu pakai stop loss, dan tidak pernah mengubah trading style dalam kondisi apa pun. Disiplin. Konsisten. Itu saja.
Sebaliknya, yang sering loss juga polanya jelas.
Tidak pakai stop loss.
Tidak pakai money management.
Suka ubah-ubah gaya trading.
Hobi scalping tanpa sistem jelas.
Sering locking atau hedging tanpa perhitungan matang.
Mereka ini yang bikin broker santai saja, karena secara statistik cepat atau lambat akan habis sendiri.
Jadi kalau mau pilih broker, jangan cuma tanya spread berapa, komisi berapa, bonus apa. Itu tidak terlalu penting.
Yang lebih penting: cek trading rules dan cek server. Pastikan tidak ada aturan yang membatasi cara kita mencari profit.
Setelah itu, fokus kembali ke diri sendiri. Karena pada akhirnya, faktor terbesar bukan di broker tapi di disiplin dan konsistensi kita sebagai trader.
.png)
.jpg)
Posting Komentar