Saya mau cerita sesuatu yang mungkin agak sensitif, tapi ini penting banget buat kalian yang serius di dunia forex.
Saya pernah ada di lingkungan broker, pernah dengar langsung obrolan para dealer dan orang dalam. Dari situ saya paham satu hal: ada teknik yang sengaja “diajarkan” ke trader supaya mereka hancur pelan-pelan.
Teknik itu namanya locking atau hedging.
Sekilas terdengar canggih. Katanya dipakai institusi besar, katanya profesional, katanya buat mengamankan posisi. Tapi kenyataannya? Justru banyak trader ritel yang habis gara-gara teknik ini.
Awal Mula Trader Dijebak
Bayangkan skenarionya begini. Seorang trader open posisi buy 1 lot. Ternyata market turun. Floating minus makin dalam. Lalu datanglah saran manis:
“Daripada loss makin besar, lebih baik di-lock saja Pak. Buka sell biar aman.”
Trader merasa diselamatkan. Secara teori, iya, posisi terkunci. Tapi yang jarang disadari adalah setelah itu trader dipaksa menganalisa dua arah sekaligus.
Market turun 100 poin. Turun lagi 300 poin. Posisi sell profit. Lalu disuruh tutup sell-nya. Sekarang tinggal posisi buy yang minus besar. Harapannya? Market harus naik jauh lebih tinggi untuk nutup minus tadi.
Masalahnya, market nggak pernah gerak lurus. Dia naik-turun, zigzag. Di area itu, dua-duanya bisa minus. Trader bingung, takut tutup rugi, tapi juga nggak berani ambil keputusan. Akhirnya kejebak berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.
Di titik ini, trader sudah masuk ke persimpangan: antara serakah dan takut. Dan di situlah permainan sebenarnya terjadi.
Kenapa Teknik Ini Menguntungkan Broker?
Sekarang kita lihat dari sisi broker model market maker. Misalnya total posisi klien 5.000 lot buy. Secara sistem, broker pegang posisi sell 5.000 lot.
Kalau market turun 1.000 poin, siapa yang floating loss? Klien. Siapa yang floating profit? Broker.
Di titik tertentu, broker bisa melakukan hedging ke liquidity provider untuk mengunci profit mereka. Mereka mengamankan keuntungan, bukan mengamankan kerugian seperti yang diajarkan ke trader.
Perbedaannya sangat jelas:
- Broker hedging untuk mengunci profit.
- Trader diajarkan hedging untuk “mengamankan loss”.
Itu dua hal yang sangat berbeda.
Ilusi Profit di Atas Kertas
Ada juga skenario yang sering bikin trader makin terlena.
Contoh: buy 1 lot, turun 300 poin, lalu buka sell 1 lot (lock). Market turun lagi, sell profit 300 poin. Sell ditutup. Lalu market naik kembali 300 poin.
Secara hitung-hitungan kasar di atas kertas, terlihat seperti bisa impas atau bahkan profit kecil.
Tapi realitanya? Saat market naik 300 poin, trader berharap naik lebih tinggi lagi supaya bisa nutup minus besar di posisi buy awal. Dia nggak mau tutup di titik aman. Dia ingin lebih.
Di situlah emosi mengambil alih. Waktu habis, fokus hancur, keputusan makin buruk. Begitu market berbalik lagi, broker atau sales akan muncul lagi:
“Lock lagi Pak, biar aman.”
Siklusnya berulang terus.
Komisi dan Kepentingan Tersembunyi
Ada hal lain yang jarang disadari. Setiap kali trader buka posisi baru termasuk saat locking ada komisi, spread, atau keuntungan lain yang masuk ke broker.
Artinya, makin sering trader lock dan buka posisi, makin sering broker dapat pemasukan.
Sementara trader merasa sedang “menyelamatkan diri”.
Kalau memang teknik ini benar-benar ampuh untuk trader ritel, kenapa mayoritas yang pakai justru tetap gagal?
Jawabannya sederhana: karena teknik ini membuat trader kehilangan satu hal paling penting dalam trading kejelasan arah dan disiplin cut loss.
Kenapa Banyak yang Percaya?
Karena dikemas dengan bahasa keren: “dipakai institusi”, “strategi profesional”, “cara aman”.
Padahal trader ritel dan institusi itu beda level:
- Modal beda.
- Manajemen risiko beda.
- Akses likuiditas beda.
- Tujuan hedging beda.
Trader ritel yang belum konsisten analisa satu arah saja sudah sulit, apalagi dipaksa menganalisa dua arah sekaligus dan berharap dua-duanya profit.
Itu bukan strategi. Itu jebakan psikologis.
Pesan Saya untuk Trader
Saya bukan bilang semua broker jahat. Tapi oknum itu ada. Dan biasanya mereka bermain di psikologi: takut dan serakah.
Kalau dari awal sistem kalian jelas entry jelas, stop loss jelas, risk management jelas kalian nggak butuh locking untuk menyelamatkan kesalahan.
Trading itu soal menerima risiko, bukan menunda kenyataan.
Kalau kalian merasa selama ini terjebak di siklus lock, buka, tutup, lock lagi coba berhenti sebentar. Evaluasi. Tanyakan ke diri sendiri: ini strategi yang terukur, atau cuma cara supaya saya nggak mau mengakui salah?
Di dunia trading, yang bikin akun habis bukan cuma market. Kadang yang bikin habis adalah keputusan kita sendiri yang dibungkus dengan ilusi “pengamanan”.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
.png)

Posting Komentar