Akhirnya saya putuskan untuk buka-bukaan soal strategi trading yang selama ini saya pakai.
Banyak yang nanya, “Sebenarnya pakai metode apa sih?”
Jawaban saya simpel: saya tidak pernah gonta-ganti metode. Dari dulu sampai sekarang, prinsipnya tetap sama.
Saya bukan tipe trader yang suka permak sistem tiap kali market berubah.
Saya juga tidak pernah merasa harga itu “terlalu tinggi” untuk buy atau “terlalu rendah” untuk sell.
Buat saya, harga itu netral.
Yang penting adalah konteksnya: market sedang trending atau sedang ranging. Di situ kuncinya.
Saya Selalu Mulai dari Support & Resistance
Langkah pertama yang selalu saya lakukan adalah menentukan area strong support dan strong resistance. Itu fondasi. Bukan feeling, bukan asumsi, bukan ikut-ikutan opini orang.
Begitu area itu jelas, saya tinggal lihat market-nya lagi apa. Kalau market trending, saya ikut tren. Kalau market ranging, saya manfaatkan pantulannya. Sesimpel itu.
Saya sering entry di area yang sama, berkali-kali, selama level itu masih valid. Entry pakai buy limit atau sell limit, stop loss jelas, take profit jelas. Tidak ada drama. Tidak ada galau.
Saya Tidak Mengandalkan Feeling
Saya tidak pernah mengambil keputusan hanya karena “kayaknya naik” atau “kayaknya turun”. Semua harus berdasarkan sistem yang sudah saya bakukan.
Indikator? Saya anggap itu alat bantu. Bukan penentu utama. Banyak trader salah kaprah karena menggabungkan terlalu banyak indikator tanpa paham konteks. Akhirnya malah bingung sendiri.
Prinsip saya sederhana: semakin sedikit teori yang dipakai, semakin jelas keputusan yang diambil. The less you know, the better your trade — dalam arti jangan kebanyakan distraksi.
Breakout, Reversal, atau Trend?
Saya tidak fanatik pada satu istilah. Breakout, reversal, trend — semua itu valid, asalkan tahu kapan digunakan.
Contoh konkretnya di gold. Banyak orang bilang harga sudah tinggi. Tapi kalau struktur market menunjukkan tren naik dan level resistance berikutnya masih terbuka, kenapa saya tidak buy?
Sebaliknya, kalau sudah muncul tanda reversal di area resistance kuat, saya tidak ragu untuk sell. Yang penting: saya tahu probabilitasnya.
Setiap metode punya probabilitas masing-masing. Tidak ada yang 100% benar. Tugas kita bukan mencari metode sempurna, tapi menjalankan metode yang sama secara konsisten.
Saya Manfaatkan Seasonality
Satu hal yang jarang dibahas trader lain adalah seasonality. Pola musiman ini sering dimanfaatkan institusi besar dan broker market maker.
Saya punya background sebagai dealer, jadi saya tahu bagaimana broker bekerja. Mereka tahu di mana mayoritas trader retail pasang posisi. Di situlah sering terjadi “permainan”.
Karena itu, saya tidak hanya lihat teknikal harian, tapi juga pola musiman. Misalnya di bulan tertentu gold cenderung bullish atau pair tertentu punya kecenderungan arah tertentu. Ini bukan jaminan, tapi meningkatkan probabilitas.
Jangan Galau Saat Market Bergerak
Banyak trader awalnya yakin, tapi begitu harga sedikit melawan posisi, langsung panik. Padahal belum kena stop loss.
Saya pribadi sudah tahu batas risiko sebelum entry. Jadi kalau stop loss kena, ya sudah. Itu bagian dari sistem. Bukan berarti metodenya salah.
Yang bahaya itu kalau kita ubah-ubah sistem di tengah jalan karena emosi. Hari ini breakout, besok scalping, lusa swing, minggu depan ganti indikator lagi. Ujung-ujungnya tidak ada yang benar-benar dikuasai.
1 Hal Penting: Konsisten Asalkan...
Semua strategi tadi tidak akan ada artinya kalau kalian tidak konsisten.
Konsisten entry di area yang sudah ditentukan.
Konsisten pakai risk management.
Konsisten tidak menambah-nambah teori baru tiap minggu.
Asalkan kalian serius dan mau menjalankan satu metode sampai benar-benar paham karakternya, hasil itu cuma soal waktu.
Trading itu bukan soal terlihat pintar. Tapi soal disiplin menjalankan hal yang sama, berulang-ulang, dengan probabilitas yang sudah dihitung.
Kalau kalian masih suka bingung ganti metode, berhenti dulu. Pilih satu. Dalami. Jalankan. Evaluasi.
Dari situ, level kalian akan naik dengan sendirinya.
.png)

Posting Komentar