Saya mau cerita dari sudut pandang yang mungkin jarang dibahas secara terbuka.
Dulu, sebelum dikenal sebagai trader dan mentor, saya pernah ada di “dapur” broker.
Saya pernah jadi dealer. Dan di sana, saya benar-benar melihat bagaimana broker market maker bekerja dari dalam.
Pertama, kita luruskan dulu mindset yang sering salah kaprah.
Banyak orang bilang, “Jangan trading di broker market maker, itu bandar.”
Pertanyaannya, memangnya tanpa market maker kita bisa trading? Tidak bisa.
Di semua industri pasti ada market maker.
Kita beli bensin eceran, ada yang menentukan harga.
Kita beli daging di pasar, ada yang jadi penentu harga.
Di forex pun sama.
Tanpa market maker, transaksi harus 1:1 dengan kontrak penuh.
Artinya?
Hampir tidak mungkin trader retail bisa masuk karena butuh modal sangat besar.
Market maker itulah yang memberikan fasilitas leverage. Mau 1:100, 1:500, bahkan 1:1000, itu semua karena peran mereka.
Jadi jangan gampang termakan opini yang bilang semua market maker itu jahat. Yang benar itu: pahami cara kerjanya.
Saat Saya Jadi Dealer: Tugas Utamanya Bikin Perusahaan Profit
Waktu saya jadi dealer, tugas saya sederhana tapi berat: memastikan perusahaan tetap profit.
Ada dua tugas utama saya waktu itu:
- Melakukan hedging.
- Mengawasi klien yang profit konsisten.
Saya jelaskan satu per satu.
Hedging: Cara Broker Mengamankan Posisi
Misalnya begini. Anggap harga gold di 1800. Lalu total semua klien di broker tempat saya bekerja melakukan posisi BUY dengan total 5.000 lot.
Apa yang terjadi?
Karena broker adalah market maker, otomatis broker mengambil posisi sebaliknya. Artinya, kalau klien BUY 5.000 lot, broker secara sistem akan berada di posisi SELL 5.000 lot.
Sekarang bayangkan harga turun 1.000 poin. Di situ broker untung. Tapi kalau harga tiba-tiba naik besar? Broker bisa rugi besar.
Di sinilah tugas saya sebagai dealer bekerja. Saya harus menganalisis: apakah market masih bisa turun, atau sudah waktunya balik arah?
Kalau saya melihat potensi reversal besar, saya akan sarankan perusahaan untuk melakukan hedging. Artinya, broker membuka posisi berlawanan di liquidity provider sehingga posisi bersihnya jadi nol. Broker tidak lagi mengambil risiko pasar.
Dari pekerjaan inilah saya belajar membaca market dengan serius. Karena setiap hari kerjaan saya ya itu: analisis dan ambil keputusan risiko.
Trader Profit Konsisten? Bukan Dicurangi, Tapi Dilempar
Ini bagian yang banyak orang salah paham.
Kalau ada trader yang profit sekali dua kali, itu biasa. Tapi kalau ada trader yang profit konsisten, sebagai dealer saya wajib memantau.
Apakah langsung dicurangi? Tidak.
Yang dilakukan adalah: ordernya dilempar ke liquidity provider (LP).
Artinya apa?
Awalnya transaksi klien langsung “ditampung” broker.
Tapi kalau trader itu konsisten profit, maka melalui sistem bridge, ordernya diteruskan ke LP. Jadi secara teknis dia trading melawan liquidity provider, bukan lagi melawan broker.
Broker tetap dapat keuntungan dari spread atau komisi, tanpa harus menanggung risiko dari trader yang jago.
Jadi bukan dihambat. Justru dipindahkan.
STP, ECN, dan Realitanya
Banyak yang bangga bilang, “Broker saya ECN murni.” Saya jujur saja, kalau masih pakai MT4 dan bilang direct market access murni, itu perlu dipertanyakan.
Secara konsep:
- STP (Straight Through Processing) → Order diteruskan ke satu liquidity provider.
- ECN (Electronic Communication Network) → Order dilempar ke beberapa liquidity provider lewat agregator, lalu sistem cari harga terbaik.
Kelebihan ECN: bisa dapat harga terbaik.
Kekurangannya: eksekusi bisa sedikit lebih lambat karena sistem harus memilih harga terbaik dulu.
STP lebih cepat, tapi belum tentu harga paling bagus.
Sebagian besar broker sekarang itu model hybrid. Artinya, sebagian order ditampung, sebagian dilempar ke LP.
Yang perlu hati-hati adalah broker full market maker yang tidak pernah melempar posisi trader profit. Semua ditahan di dalam. Kalau model seperti ini dan manajemennya tidak sehat, potensi konflik kepentingannya besar.
Jadi Harus Pilih Broker Seperti Apa?
Sebagai orang yang pernah ada di dalam sistem, saran saya simpel:
Cari broker yang modelnya hybrid dan transparan.
Eksekusinya wajar.
Tidak aneh-aneh.
Tidak mempersulit saat profit dan withdraw.
Jangan cuma percaya label “ECN” atau “No Dealing Desk”. Pahami bisnis modelnya.
Karena pada akhirnya, semua broker itu mencari profit. Itu bisnis. Tapi selama sistemnya sehat dan manajemen risikonya benar, trader tetap bisa berkembang.
Ilmu saya tentang market bukan cuma dari chart, tapi dari dapur broker itu sendiri. Dan justru dari situlah saya belajar satu hal penting: kalau mau survive, kita harus jadi trader yang lebih cerdas dari sistem, bukan cuma jago entry.
Kalau kamu mau serius di dunia ini, berhenti sibuk menyalahkan broker. Fokus perbaiki skill, manajemen risiko, dan konsistensi.
Karena di ujungnya, market tidak peduli kamu pakai broker apa. Yang menentukan tetap kualitas keputusanmu sendiri.
.png)
.jpg)
Posting Komentar