Akhir TRAGIS Mantan Trader SCALPING!

Akhir TRAGIS Mantan Trader SCALPING!

Dulu saya adalah mantan trader scalping yang merasa sudah menemukan “cara paling profitable”.

Transaksi saya cepat, agresif, bahkan dalam satu malam bisa berkali-kali entry dari pagi sampai tengah malam.

Secara angka, hasilnya memang terlihat menarik. Tapi di balik itu semua, ada sisi gelap yang pelan-pelan menghancurkan saya, baik secara mental, finansial, maupun kesehatan.

Awalnya saya merasa teknik ini sangat efektif, apalagi jika dijalankan di broker dengan sistem full market maker.

Eksekusinya cepat karena order langsung masuk ke server broker tanpa lewat banyak perantara.

Bandingkan dengan sistem hybrid yang harus lewat bridge dulu ke liquidity provider, jelas ada tambahan delay.

Buat scalper yang main hitungan detik dan poin kecil, perbedaan 200–500 milidetik saja sudah sangat berarti. Dari sini saya mulai sadar, tidak semua broker cocok untuk strategi seperti ini.

Masalah besar muncul di bagian toleransi harga atau slippage.

Ketika kita klik di harga tertentu, tapi di liquidity harga sudah bergerak, akan ada selisih. Kalau toleransinya kecil, order sering kena reject.

Kalau toleransinya besar, kita bisa dapat harga yang jauh dari klik awal. Siapa yang menanggung selisih itu?

Kalau broker yang tanggung, mereka bisa rugi. Kalau trader yang tanggung, kita yang merasa dicurangi.

Di sinilah konflik mulai terasa. Scalper profit konsisten? Broker tidak senang. Ujung-ujungnya, transaksi mulai terasa “berat”.

Saya mengalami sendiri.

Dua minggu pertama lancar.

Sebulan pertama masih enak.

Masuk bulan kedua, mulai aneh.

Order susah masuk. Lebih parah lagi, susah keluar.

Buat scalper, itu mimpi buruk. Refleks saya waktu itu?

Ganti akun.

Ganti broker.

Bahkan pernah sampai pinjam identitas orang lain supaya bisa daftar lagi.

Saya pernah minjam KTP teman, bahkan orang di sekitar saya, hanya demi bisa terus trading dengan pola yang sama.

Dan ya, saya pernah kehilangan ratusan juta karena percaya pada orang yang salah. Itu tamparan keras.

Karena sering bermasalah, saya jadi hanya berani trading dengan modal kecil.

Kenapa?

Karena di dalam hati saya sudah siap kalau sewaktu-waktu tidak dibayar. Itu jujur saja. Banyak scalper akhirnya bermain aman dengan dana minimal.

Tapi pertanyaannya, kalau modal kecil, profit juga kecil. Mau hidup dari mana? Di titik itu saya mulai sadar, ada yang tidak sehat dari cara saya bermain.

Namun alasan utama saya berhenti bukan cuma karena broker atau uang. Saya berhenti karena tubuh saya menyerah duluan.

Duduk 10–12 jam sehari, posisi tidak pernah benar-benar ideal. Punggung saya mulai bermasalah. Sakitnya bukan cuma pegal biasa, tapi sampai infeksi.

Belum lagi pola makan berantakan, tidur tidak teratur, stres tinggi. Sampai akhirnya saya masuk rumah sakit karena masalah lambung.

Biayanya? Puluhan juta hanya untuk satu kali perawatan dan tindakan medis. Saat itu saya benar-benar mikir, buat apa uang kalau habis untuk memperbaiki tubuh yang saya rusak sendiri?

Di rumah sakit, saya merenung.

Percuma punya profit kalau hidup tidak tenang. Percuma bangga dengan angka di layar kalau badan rusak dan pikiran kacau.

Sejak saat itu saya memutuskan berhenti dari scalping agresif yang dulu saya banggakan. Saya ubah cara saya melihat trading.

Saya pilih metode yang lebih sederhana, lebih tenang, dan lebih manusiawi untuk dijalankan.

Kalau kamu sekarang masih di fase euforia scalping dan merasa “ini paling cuan”, saya tidak melarang.

Tapi jujurlah sama diri sendiri.

Perhatikan pola transaksimu. Perhatikan kesehatanmu. Jangan sampai kamu baru sadar setelah tubuh atau uangmu jadi korban.

Saya sudah pernah di titik itu. Dan saya tidak mau kamu mengulang kesalahan yang sama.

Posting Komentar