ADU PROFIT 3 METODE TRADING! Nggak Nyangka Ini Juaranya...

ADU PROFIT 3 METODE TRADING! Nggak Nyangka Ini Juaranya...

Jujur aja, perjalanan trading saya itu nggak langsung pakai satu metode terus jadi.

Saya mulai dari scalping tahun 2011–2013.

Setelah itu pindah ke intraday sekitar dua tahun.

Baru akhirnya saya menetap di swing trading sampai sekarang.

Perpindahan itu bukan karena ikut-ikutan, tapi karena saya cari metode yang paling nyaman dijalankan dan paling enak hasilnya.

Sekarang saya ajak kamu bandingin secara simpel.

Misalnya target profit kita 1000 poin. Di scalping, rata-rata saya ambil 10–20 poin, anggap saja 15 poin per trade.

Artinya, untuk tembus 1000 poin, saya butuh sekitar 65 kali entry.

Di intraday, target rata-rata 30–50 poin, kita ambil 40 poin. Berarti butuh sekitar 25 kali trade.

Sementara di swing, target saya 100–300 poin, rata-rata 200 poin. Jadi cukup 5 kali trade saja untuk sampai 1000 poin.

Kalau dilihat dari waktu, scalping bisa saja selesai dalam sebulan karena entry-nya banyak banget.

Intraday kurang lebih dua bulanan untuk dapat jumlah trade yang cukup.

Swing?

Bisa saja sebulan juga, tapi dengan frekuensi entry yang jauh lebih sedikit.

Nah, di sinilah saya mulai sadar, yang penting itu bukan cuma cepat atau lambat, tapi berapa banyak waktu, tenaga, dan fokus yang kita keluarkan.

Scalping memang bisa kasih profit besar, tapi waktunya habis.

Pagi, siang, malam mantengin chart.

Capeknya bukan main.

Intraday sedikit lebih fleksibel, tapi tetap harus monitor setiap hari. Rasanya nanggung.Profit ada, waktu agak longgar, tapi belum benar-benar bebas.

Begitu saya pindah ke swing, semuanya lebih jelas. Profit tetap bisa besar, waktu jauh lebih fleksibel, dan tenaga nggak terkuras terus-terusan. Saya bisa alihkan energi ke hal lain yang sama pentingnya.

Kalau kamu perhatikan, hampir semua trader itu fasenya mirip.

Awal mulai trading biasanya condong ke scalping.

Kenapa?

Karena takut.

Maunya cepat selesai, cepat cuan, cepat tutup posisi.

Setelah mulai paham pergerakan market, naik level ke intraday. Tapi begitu mental makin matang, biasanya akan berakhir di swing.

Kenapa?

Karena kita mulai mikir jangka panjang dan ingin hasil maksimal dengan effort minimal.

Sekarang soal karakter market.

Buat saya, market cuma ada dua tipe: ranging dan trending.

Saat ranging, harga cuma bolak-balik di area yang sama. Di kondisi ini, hampir semua orang bisa profit. Buy di bawah, sell di atas, tunggu saja, biasanya balik lagi. Karena sering berhasil di fase ini, banyak trader jadi terlena dan merasa trading itu mudah.

Masalahnya muncul saat market masuk fase trending.

Harga bergerak satu arah, entah naik terus atau turun terus.

Di sinilah mayoritas trader loss.

Kenapa?

Karena masih pakai pola pikir ranging.

Mereka merasa harga sudah “terlalu tinggi” atau “terlalu rendah”, lalu melawan arah trend.

Padahal market maker tidak pernah berpikir harga itu terlalu mahal atau terlalu murah. Mereka hanya ikut arus pergerakan besar.

Itulah kenapa saya memilih swing trading.

Dengan pendekatan ini, saya bisa lebih fokus membaca struktur market, bukan sekadar cari poin kecil. Saya tidak lagi terjebak ingin cepat selesai. Yang saya kejar adalah kualitas entry dan momentum besar.

Intinya sederhana. Bukan soal metode mana yang paling keren. Tapi metode mana yang paling cocok dengan mental, waktu, dan tujuan kamu.

Buat saya, setelah mencoba semuanya, swing trading adalah jawaban paling masuk akal.

Posting Komentar